Minggu, 01 April 2012

KONSEP DASAR PERAWATAN KELUARGA

Konsep Dasar Perawatan Keluarga
OLEH: I PUTU GEDE WIDHIADNYANA

1.        Definisi keluarga
            Terdapat beberapa definisi mengenai keluarga, antara lain:
a.         Keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh perkawinan, adopsi dan kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, dan emosional dan sosial dari individu-individu yang ada di dalamnya terlihat dari pola interaksi yang saling ketergantungan untuk mencapai tujuan bersama (Friedman, 1998).
b.        Keluarga terdiri dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan perkawinan, darah dan ikatan adopsi yang hidup bersama dalam satu rumah tangga, anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan peran sosial keluarga (Burgess dkk, 1963).
c.       Keluarga adalah satu sistem sosial yang berisi dua atau lebih orang yang hidup bersama yang mempunyai hubungan darah, perkawinan atau adopsi, atau tinggal bersama dan saling menguntungkan, mempunyai tujuan bersama, mempunyai generasi penerus, saling pengertian dan saling menyayangi (Murray, Zentner, 1997).
d.        Keluarga adalah kumpulan dua atau lebih individu yang saling tergantung satu sama lainnya untuk emosi, fisik, dan dukungan ekonomi (Hanson, 1996)
e.       Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (DepKes RI, 1998).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah kumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, dan kelahiran yang hidup bersama dalam satu rumah tangga membentuk suatu budaya untuk mencapai tujuan bersama.

2.        Tipe keluarga
Berbagai bentuk dan tipe keluarga, berdasarkan berbagai sumber, dibedakan berdasarkan keluarga tradisional dan keluarga non tradisional, seperti:
Menurut Maclin (1998) dalam Henny Achjar (2010), pembagian tipe keluarga:
1).      Keluarga tradisional
  1. Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak yang hidup dalam rumah tangga yang sama
  2.  Keluarga dengan orang tua tunggal yaitu keluarga hanya dengan satu orang yang mengepalai akibat dari perceraian, pisah atau ditinggalkan
  3. Pasangan inti, hanya terdiri dari suami dan istri saja, tanpa anak atau tidak ada anak yang tinggal bersama mereka
  4. Bujang dewasa yang tinggal sendirian
  5. Pasangan usia pertengahan atau lansia, suami sebagai pencari nafkah, istri tinggal di rumah dengan anak sudah kawin atau bekerja
  6. Jaringan keluarga besar: terdiri dari keluarga inti atau lebih atau anggota keluarga yang tidak menikah hidup berdekatan dalam daerah geografis
2).      Keluarga non tradisional
  1. Keluarga dengan orang tua yang mempunyai anak tetapi tidak menikah (biasanya terdiri dari ibu dan anak saja)
  2. Pasangan suami istri yang tidak menikah dan telah mempunyai anak
  3. Keluarga gay/lesbian adalah pasangan yang berjenis kelamin sama hidup bersama sebagai pasangan menikah
  4. Keluarga komuni adalah rumah tangga yang terdiri dari lebih satu pasangan monogami dengan anak-anak, secara bersama menggunakan fasilitas, sumber dan mimiliki pengalaman yang sama.
Menurut Allender & Spradley (2001) dalam Henny Achjar (2010), membagi tipe keluarga berdasarkan:
1).      Keluarga tradisional
  • Keluarga inti (nuclear family) yaitu keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak kandung atau anak angkat
  • Keluarga besar (extended family) yaitu keluarga inti ditambah dengan keluarga lain yang mempunyai hubungan darah, misalnya kakek, nenek, paman, dan bibi
  • Keluarga Dyad yaitu rumah tangga yang terdiri dari suami istri tanpa anak
  •  Single parent yaitu rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak kandung atau anak angkat, yang disebabkan karena perceraian atau kematian
  • Single adult, yaitu rumah tangga yang hanya terdiri dari orang dewasa saja
  • Keluarga usia lanjut yaitu rumah tangga yang terdiri dari suami istri yang berusia lanjut
2).      Keluarga non tradisional
  • Commune family, yaitu lebih dari satu keluarga tanpa pertalian darah hidup serumah
  • Orang tua (ayah/ibu) yang tidak ada ikatan perkawinan dan anak hidup bersama dalam satu rumah tangga
  • Homoseksual yaitu dua individu yang sejenis kelamin hidup bersama dalam satu rumah tangga 
Menurut Carter & Mc Goldrick (1988) dalam Henny Achjar (2010), membagi tipe keluarga berdasarkan:
  1. Keluarga berantai (sereal family) yaitu keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
  2. Keluarga berkomposisi, yaitu keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama-sama.
  3. Keluarga kabitas, yaitu keluarga yang terbentuk tanpa pernikahan.
 
3.        Tugas keluarga
          Tugas keluarga merupakan pengumpulan data yang berkaitan dengan ketidakmampuan keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan. Tugas keluarga dapat dibedakan menjadi lima, yaitu:
  1. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan, termasuk bagaimana persepsi keluarga terhadap tingkat keparahan penyakit, pengertian, tanda, dan gejala, faktor penyebab dan persepsi keluarga terhadap masalah yang dialami keluarga.
  2. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan, termasuk sejauhmana keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah, bagaimana masalah dirasakan oleh keluarga, keluarga menyerah atau tidak terhadap masalah yang dihadapi, adakah rasa takut terhadap akibat atau adakah sikap negative dari keluarga terhadap masalah kesehatan, bagaimana sistem pengambilan keputusan yang dilakukan keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit.
  3. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit, seperti bagaimana keluarga mengetahui keadaan sakitnya, sifat dan perkembangan perawatan yang diperlukan, sumber-sumber yang ada dalam keluarga serta sikap keluarga terhadap yang sakit.
  4. Ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan, seperti pentingnya hygiene sanitasi bagi keluarga, upaya pencegahan penyakit yang dilakukan keluarga, upaya pemeliharaan lingkungan yang dilakukan keluarga, kekompakan anggota keluarga dalam menata lingkungan dalam dan luar rumah yang berdampak terhadap kesehatan keluarga.
  5. Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan, seperti kepercayaan keluarga terhadap petugas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan, keberadaan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada, keuntungan keluarga terhadap penggunaan fasilitas kesehatan, apakah pelayanan kesehatan terjangkau keluarga, adakah pengalaman yang kurang baik yang dipersepsikan keluarga.
 
4.        Peran keluarga
Menurut Barbara Kozier (1995); Wahit Iqbal Mubarak (2006) peran merupakan seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari prilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi sosial tertentu (Mubarak, Wahit Iqbal,2006).
Peran keluarga dapat dibedakan menjadi dua, yakni:
a.         Peran formal keluarga
Berkaitan dengan setiap posisi formal keluarga adalah peran-peran terkait, yaitu sejumlah perilaku yang kurang lebih bersifat homogen. Keluarga membagi peran secara merata kepada para anggota keluarga seperti cara masyarakat membagi peran-perannya: menurut bagaimana pentingnya pelaksanaan peran bagi berfungsinya suatu sistem. Nye dan Gecas (1976) dalam Wahit Iqbal Mubarak (2006) mengidentifikasi enam peran dasar yang membentuk posisi sosial sebagai suami-ayah dan istri-ibu:
1).      Peran sebagai provider atau penyedia.
2).      Sebagai pengatur rumah tangga.
3).      Perawatan anak.
4).      Sosialisasi anak.
5).      Rekreasi.
6).      Persaudaraan (kinship) (memelihara hubungan keluarga paternal dan maternal).
7).      Peran terapeutik (memenuhi kebutuhan afektif dari pasangan).
8).      Peran seksual.
b.        Peran informal keluarga
Menurut Satir (1967) dalam Wahit Iqbal Mubarak (2006) peran-peran informal bersifat implicit biasanya tidak tampak kepermukaan dan dimainkan hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional individu dan atau untuk menjaga keseimbangan dalam keluarga. Beberapa contoh peran-peran informal yang bersifat adaptif dan yang merusak kesejahteraan keluarga antara lain:
1).           Pendorong
Pendorong, memuji, setuju dengan dan menerima kontribusi dari orang lain. Akibatnya ia dapat merangkul orang lain dan membuat mereka merasa bahwa pemikiran mereka penting dan bernilai untuk didengar.
2).           Pengharmonis
Yaitu berperan menengahi perbedaan yang terdapat diantara para anggota penghibur menyatukan kembali perbedaan pendapat.
3).           Inisiator-kontributor
Mengemukakan dan mengajukan ide-ide baru atau cara-cara mengingat masalah atau tujuan-tujuan kelompok.
4).           Pendamai
5).           Penghalang
6).           Dominator
Cenderung memaksakan kekuasaan atau superioritas dengan memanipulasi anggota kelompok tertentu dan membanggakan kekuasaannya dan bertindak seakan-akan ia mengetahui segala-galanya dan tampil sempurna.
7).           Penyalah
8).           Pengikut
9).           Pencari nafkah
10).       Martir
Tidak menginginkan apa saja untuk dirinya, ia hanya berkorban untuk anggota keluarga.
11).       Keras hati
12).       Sahabat
13).       Kambing hitam keluarga
Masalah anggota keluarga yang telah diidentifikasi dalam keluarga, sebagai korban atau tempat pelampiasan ketegangan dan rasa bermusuhan, baik secara jelas maupun tidak. Kambing hitam berfungsi sebagai tempat penyaluran.
14).       Penghibur
15).       Perawat keluarga
16).       Pioner keluarga
Yaitu membawa keluarga pindah ke suatu wilayah asing, dan dalam pengalaman baru.
17).       Koordinator keluarga
18).      Mengorganisasi dan merencanakan kegiatan-kegiatan keluarga, yang berfungsi mengangkat keakraban dan memerangi kepedihan.
19).       Distraktor dan orang yang tidak relevan.
20).    Distraktor bersifat tidak relevan, dengan menunjukkan prilaku yang menerik perhatian, ia membantu keluarga menghindari atau melupakan persoalan-persoalan yang menyedihkan dan sulit.
21).       Penghubung keluarga
Perantara keluarga adalah penghubung, biasanya ibu mengirim dan memonitor komunikasi dalam keluarga.
22).       Saksi
Sama dengan pengikut, kecuali dalam beberapa hal, saksi lebih pasif. Saksi hanya mengamati, tidak melibatkan dirinya.


5.        Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga merupakan hasil atau konsekuensi dari struktur keluarga atau sesuatu tentang apa yang dilakukan oleh keluarga. Mernurut Friedman (1998) dalam Henny Achjar (2011) fungsi keluarga meliputi:
a.         Fungsi Afektif
Fungsi afektif merupakan fungsi keluarga hasil atau konsekuensi dalam memenuhi kebutuhan pemeliharaan kepribadian anggota keluarga. Merupakan respon dari keluarga terhadap kondisi dan situasi yang dialami tiap anggota keluarga baik senang ataupun sedih, dengan melihat bagaimana cara keluarga mengekspresikan kasih sayang.
b.        Fungsi Sosialisasi
Fungsi sosialisasi tercermin dalam melakukan pembinaan sosialisasi pada anak, membentuk nilai dan norma yang diyakini anak, memberikan batasan prilaku yang boleh dan tidak boleh pada anak, meneruskan nilai-nilai budaya keluarga. Bagaimana keluarga produktif terhadap sosial dan bagaimana keluarga memperkenalkan anak dengan dunia luar dengan belajar berdisiplin, mengenal budaya dan norma melalui hubungan interaksi dalam keluarga sehingga mampu berperan dalam masyarakat.
c.         Fungsi Perawatan Kesehatan
Fungsi perawatan kesehatan keluarga merupakan fungsi keluarga dalam melindungi keamanan dan kesehatan seluruh anggota keluarga serta menjamin pemenuhan kebutuhan perkembangan fisik, mental, dan spiritual, dengan cara memelihara dan merawat anggota keluarga serta mengenali kondisi sakit tiap anggota keluarga.
d.        Fungsi Ekonomi
Fungsi ekonomi, untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandang, pangan, papan, dan kebutuhan lainnya melalui keefektifan sumber dana keluarga. Mencari sumber penghasilan guna memenuhi kebutuhan keluarga, pengaturan penghasilan keluarga, menabung untuk memenuhikebutuhan keluarga.
e.         Fungsi Biologis
Fungsi biologis bukan hanya ditujukan untuk meneruskan keturunan tetapi untuk memelihara dan membesarkan anak untuk kelanjutan generasi selanjutnya.
f.         Fungsi Psikologis
Fungsi psikologis, terlihat bagaimana keluarga memberikan kasih sayang dan rasa aman, memberikan perhatian diantara anggota keluarga, membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga dan memberikan identitas keluarga.
g.        Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan diberikan keluarga dalam rangka memberikan pengetahuan, keterampilan, membentuk prilaku anak, mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa, mendidik anak sesuai dengan tingkatan perkembangannya.

DAFTAR PUSTAKA 



Achjar, Henny.2010. Aplikasi Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga.Jakarta: Sagung Seto

Friedman, Marilyn.1998. Keperawatan Keluarga, Teori dan Praktik.Jakarta:EGC

Mubarak, Wahit Iqbal,dkk.2006. Ilmu Keperawatan Komunitas 2.Jakarta: Sagung Seto






Tidak ada komentar:

Posting Komentar